Bayangkan seorang anak berusia lima tahun yang lebih fasih menggeser layar ponsel daripada memegang pensil. Atau seorang bocah SD yang hafal jingle iklan TikTok, tetapi tidak bisa melafalkan satu pun doa harian. Bahkan lebih parahnya lagi, ketika kita menemukan seorang anak kecil yang justru lebih nyaman berdiam diri memandang layar di kamar daripada bermain dengan anak lainnya. Gambaran ini bukan fiksi belaka, bukan juga asumsi mentahan, ini adalah potret nyata yang semakin lumrah di sudut-sudut kota Indonesia hari ini.
Data berbicara keras. Kementerian Komunikasi dan Digital
(Komdigi) mencatat rata-rata screen time anak di Indonesia telah mencapai 7,5
jam per hari, hampir setara dengan durasi sehari penuh bersekolah. Sementara
itu, laporan We Are Social (2025) menyebutkan rata-rata masyarakat Indonesia
menghabiskan 3 jam sehari khusus untuk media sosial. Sebanyak 39,71% anak
Indonesia sudah menggunakan telepon seluler, dan yang mengejutkan, 37,02% dari
mereka baru berusia 1–4 tahun.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap
digit ada seorang anak yang kehilangan waktu bermain di halaman, seorang anak
yang lupa cara berbicara bertatap muka, dan seorang anak yang kemampuan
berpikirnya perlahan terkikis oleh arus konten tanpa henti. Paparan layar
berlebih pada anak usia dini terbukti meningkatkan risiko paparan konten
berbahaya, perundungan siber, hingga memperlambat perkembangan kognitif yang
memengaruhi cara mereka berpikir dan mengambil keputusan kelak.
Ketika TPA Pun Mulai Sepi
Di Masjid Al-Kautsar, Lemah Abang, Kadipiro, Surakarta, tanda-tanda itu sudah terasa. Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) yang seharusnya ramai dengan suara anak mengaji mulai kehilangan semangat. Anak-anak datang, duduk, lalu cepat bosan. Metode pembelajaran yang itu-itu saja (monoton) duduk, baca, hafal, pulang tidak lagi cukup untuk generasi yang setiap hari terbiasa dengan konten visual yang dinamis dan interaktif.
Inilah yang mendorong kami sekelompok mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang
ditugaskan untuk berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat untuk hadir dan
mencari solusi. Bukan dengan menghapus teknologi dari kehidupan mereka, tetapi
dengan mengalihkan energi digital anak-anak menuju pembelajaran bermakna.
Tiga Hari yang Mengubah Suasana
Hari Pertama: Mendengar Sebelum Bertindak
Langkah pertama kami bukan langsung mengajar, melainkan
mengamati. Sebelum menawarkan solusi, kami perlu memahami akar masalahnya.
Selama observasi hari pertama, satu hal segera terlihat jelas: anak-anak ini
bukan malas belajar mereka hanya bosan
dengan cara belajar yang ada.
Temuan ini menjadi kompas kami. Generasi yang tumbuh di
tengah video 30 detik dan animasi penuh warna tentu tidak akan puas hanya
dengan metode ceramah satu arah. Mereka butuh stimulasi visual, interaksi
langsung, dan rasa senang dalam belajar. Dari sinilah rancangan dua hari
berikutnya lahir.
Hari Kedua: Belajar Lewat Layar, Bukan Terpenjara di Layar
Hari kedua menjadi pembuktian bahwa teknologi bukanlah musuh
pendidikan ia hanyalah alat yang menunggu diarahkan dengan bijak. Kami memutar
video edukasi Islami yang dipilih secara cermat dari YouTube, lalu menggelar
sesi nonton bareng yang hangat dan akrab. Layar yang biasanya menjadi penjara
kesendirian, kali ini berubah menjadi jendela belajar bersama.
Setelah menonton, kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan
ringan yang menguji pemahaman mereka. Hasilnya menakjubkan semua anak mampu menjawab dengan antusias.
Ini membuktikan sesuatu yang penting: kemampuan visual processing anak-anak ini
sebenarnya sangat tajam. Mereka hanya perlu konten yang tepat untuk diproses.
Hari Ketiga: Belajar Sambil Bergerak, Bermain Sambil Berpikir
Puncak dari rangkaian ini adalah hari ketiga hari yang
paling ditunggu-tunggu. Kami merancang dua permainan interaktif yang tidak
sekadar menghibur, tetapi sekaligus melatih kecepatan, ketangkasan, dan
kemampuan berpikir. Kami merasa permainan adalah suatu istilah yang tidak bisa
dipisahkan dari yang namanya anak-anak. Sehingga, dengan melakukan sesi games
bersama, harapannya anak-anak akan menjadi lebih interaktif, komunikatif,
senang berinteraksi, dan tidak hanya terpaku pada gadget.
Permainan pertama adalah berebut bola dengan instruksi
verbal "tepuk",
"pukul", atau "ambil" yang melatih refleks dan konsentrasi.
Permainan kedua, Do Mi Kado, memadukan keseruan permainan lingkaran dengan
tantangan soal-soal Islami bagi yang terkena "bom". Setiap pemenang
mendapatkan hadiah sebuah cara sederhana
namun ampuh untuk menumbuhkan jiwa kompetitif yang sehat sejak dini.
Hasilnya? Tawa, semangat, dan suasana TPA yang berubah
drastis. Tempat yang tadinya terasa berat untuk dikunjungi, mendadak menjadi
tempat yang dinantikan.
Generasi Emas Tidak Lahir Sendiri
Tiga hari bersama anak-anak TPA Al-Kautsar mengajarkan kami satu hal yang tidak ada dalam buku teks: perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berharga daripada solusi besar yang tidak pernah dijalankan.
Masalah screen time pada anak bukan sesuatu yang bisa
diselesaikan dengan melarang atau merampas gadget dari tangan mereka. Solusinya
jauh lebih bernuansa, kita perlu memberikan pengalaman dunia nyata yang lebih
menarik dari konten digital. Edukasi berbasis video interaktif dan permainan
edukatif adalah dua dari sekian banyak cara untuk melakukan itu.
Kami berharap pengurus TPA Al-Kautsar dan siapa pun yang membaca tulisan ini dapat mengambil tongkat estafet ini. Tidak
perlu teknologi canggih atau anggaran besar. Yang diperlukan hanyalah kreativitas,
konsistensi, dan keyakinan bahwa anak-anak ini layak mendapatkan yang terbaik.
Karena generasi emas tidak lahir dengan sendirinya. Mereka
lahir dari tangan-tangan orang dewasa yang mau peduli, mau bergerak, dan mau
berjuang untuk masa depan mereka.
Tim Pengabdi dan Penulis
(Jiefa Nabila Aqsha, Alima Ara Martiza, dan Gea Anindya Amalia)
.jpeg)
.jpeg)
