| Dokumentasi: Mahasiswa Universitas Sebelas Maret, 16 Juni 2026 |
Di Indonesia sendiri, kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Menariknya, jika kita menengok data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), biang kerok terbesar dari gunungan sampah ini bukanlah limbah industri atau pabrik besar, melainkan aktivitas dari dalam rumah tangga kita sendiri. Sisa makanan, bungkus belanjaan, dan limbah domestik lainnya menyumbang lebih dari 40% dari total sampah nasional. Secara sederhana, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengartikan sampah sebagai sesuatu yang dibuang karena sudah tidak dipakai atau tidak disenangi dari aktivitas manusia. Definisi ini menampar kita dengan satu kenyataan: manusialah yang memegang kendali penuh atas nasib barang yang mereka konsumsi.
Sayangnya, gunungan sampah rumah tangga ini langsung melesat ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa dipilah sama sekali dari dapur rumah. Akibatnya, TPA di berbagai daerah mengalami kelebihan muatan (overcapacity). Kelalaian kita dalam mengelola sampah ini berdampak buruk bagi banyak lini kehidupan. Dari sisi lingkungan, kebiasaan membakar sampah secara terbuka mengotori udara dengan gas rumah kaca, sementara air lindi (cairan sampah) yang merembes ke tanah mencemari sumber air bersih warga. Belum lagi dari sisi kesehatan; tumpukan sampah basah adalah hotel bintang lima bagi lalat dan tikus pembawa penyakit seperti diare, demam berdarah, hingga infeksi saluran pernapasan (ISPA).
Jika terus dibiarkan, bumi yang rusak inilah yang akan diwarisi oleh anak-cucu kita kelak. Oleh karena itu, kita butuh cara baru untuk mengubah kebiasaan masyarakat, dari yang semula “pakai-lalu-buang” menjadi siklus yang lebih ramah lingkungan. Menanamkan kesadaran ini sejak usia anak-anak adalah investasi jangka Panjang yang paling ampuh, sebab di masa inilah karakter manusia dibentuk. Salah satu taktik seru yang bisa dicoba adalah melalui metode mendongeng dan menyulap objek sampah menjadi karakter fiksi yang lucu di lembaga Pendidikan formal.
Langkah nyata inilah yang diinisiasi mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) di TPQ Nurul Hidayah, Dusun Nampurejo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Saradan, Kab. Madiun. Mengapa TPQ? Karena tempat mengaji memiliki ikatan emosional dan budaya yang sangat kuat dengan anak-anak di desa. Selain memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui pemilahan sampah, kelompok kami juga turut berpartisipasi dalam kegiatan mengajar mengaji sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan upaya menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada para santri. Sayangnya, materi kelestarian lingkungan berbasis sains praktis masih jarang menyentuh ruang belajar mereka. Pendekatan kreatif ini sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDG’s) Poin 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, yang menargetkan pengurangan sampah secara drastic pada tahun 2030 lewat gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Lewat dongeng edukatif yang menyenangkan ini, para santri di TPQ Nurul Hidayah diharapkan bisa menjadi “agen perubahan” kecil yang membawa pulang kebiasaan baik memilah sampah ke rumah mereka masing-masing.
Mengenal Karakter Sampah: Kisah Ogan dan Ano
Untuk mempermudah pemahaman anak-anak dalam memilah sampah, jenis-jenis sampah dapat diubah menjadi karakter fiksi yang dekat dengan dunia mereka:
Kurcaci Ogan (Sampah Organik)
Karakter bertubuh cokelat kehijauan dan berbau tanah segar. Ogan mempresentasikan sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan daun kering yang mudah terurai secara alami oleh bantuan mikroorganisme atau bakteri.
Kurcaci Ano (Sampah Anorganik)
Implementasi Konsep 3R di Lingkungan TPQ
Edukasi ini tidak berhenti di dalam dongeng saja, tetapi langsung di halaman TPQ Nurul Hidayah lewat penyediaan tempat sampah berwarna khusus:
Setelah para santri memahami cara memilah sampah sesuai jenisnya. Pada kegiatan selanjutnya, kelompok kami berharap dapat mengarahkan para santri pada program pengelolaan sampah yang lebih kreatif dan bermanfaat melalui kegiatan “Sihir Kebaikan”.
Menyulap Sampah Organik (Ogan):
Sampah organik yang terkumpul dicampur dengan tanah diwadah besar untuk diubah menjadi pupuk kompos. Pupuk alami ini kemudian digunakan untuk menyuburkan tanaman hijau di sekitar untuk menyuburkan tanaman hijau di sekitar area tempat ibadah.
Mendaur Ulang Sampah Anorganik (Ano):
Botol plastik bekas tidak langsung dibuang ke TPA, melainkan dimanfaatkan Kembali secara kreatif (creative reuse). Santri membersihkan dan mengecat botol tersebut menjadi tempat pensil warna-warni bermotif bulan bintang untuk merapikan kelas TPQ.
Gerakan TPQ untuk Target Dunia (SDG’s 12)
Aksi sederhana yang dilakukan oleh para santri di Dusun Nampurejo ini sebenarnya adalah langkah nyata dalam mendukung pencapaian target SDG’s poin 12. Prinsip konsumsi yang bertanggung jawab menuntut setiap orang untuk mengurangi dampak buruk dari apa yang mereka beli dan gunakan. Dengan membiasakan anak-anak membawa kantong kain saat jajan (mengurangi palstik sekali pakai) dan memanfaatkan kembali kemasan produk, pola piker lama yang menganggap sampah sebagai barang “sekali pakai-buang” perlahan berubah menjadi kesadaran untuk mengembalikan barang ke dalam siklus manfaatnya.
| Dokumentasi: Mahasiswa Universitas Sebelas Maret, 16 Juni 2026. |
Mengubah edukasi pemilahan sampah sejak dini menggunakan metode kreatif terbuti efektif meningkatkan kepedulian lingkungan anak-anak. Melalui karakter Kurcaci Ogan dan Ano, para santri TPQ Nurul Hidayah, Dusun Nampurejo, kini tidak lagi melihat sampah sebagai kotoran yang menjijikan, melainkan sebagai sebuah misi penyelamatan lingkungan yang seru
Gerakan akar rumput yang dimulai dari bangku mengaji di Kecamatan Saradan ini menjadi bukti nyata bahwa menanamkan cinta lingkungan pada anak-anak tidak harus lewat pelajaran yang rumit. Langkah kecil dari sudut desa ini bukan sekadar menjaga kebersihan lingkungan masjid, melainkan sebuah investasi jangka Panjang demi memastikan bumi ini tetap nyaman ditinggali oleh generasi masa depan.
Tim Pengabdi dan Penulis
(Miftahul Alfath Adliansyah, Nadia Dwi Fatikasari, Ajeng Husna Agisca, Dimas Firmansyah)