Kebersihan merupakan cerminan dari peradaban suatu bangsa. Di lingkungan kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, nilai-nilai kebersihan tidak hanya diajarkan melalui ruang kelas, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata di lapangan. Salah satu bentuk kepedulian tersebut hadir dari sebuah kelompok mahasiswa yang tergerak untuk melakukan pembersihan mushola di kawasan sekitar UNS. Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas membersihkan tempat, melainkan sebuah pernyataan sikap bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga berani mengambil peran aktif dalam menjaga kebaikan lingkungan sekitarnya.
Mushola sebagai tempat ibadah memiliki
peran yang sangat vital bagi umat Muslim. Ia bukan hanya tempat menunaikan
shalat, tetapi juga ruang untuk menenangkan jiwa, merefleksikan diri, dan
mempererat silaturahmi antarsesama. Namun, tidak jarang kondisi mushola di
kawasan publik maupun permukiman padat mengalami permasalahan kebersihan. Debu
yang menumpuk, karpet yang kotor, toilet yang tidak terawat, hingga fasilitas
wudu yang kurang higienis menjadi pemandangan yang kerap ditemui. Kondisi ini
tentu bertentangan dengan ajaran Islam yang sangat menekankan kebersihan,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.
Melihat kondisi salah satu mushola di
sekitar kawasan UNS yang membutuhkan perhatian, kelompok kami pun berinisiatif
untuk turun langsung. Mushola tersebut, yang terletak di area yang cukup ramai
dikunjungi oleh warga sekitar maupun mahasiswa, menunjukkan tanda-tanda kurang
terawat. Lantai yang berdebu, sarang laba-laba dan debu yang melekat di
langit-langit, kaca jendela yang kusam, kipas angin yang berselimut debu, serta
area tempat wudu yang memerlukan pembersihan intensif menjadi fokus perhatian
tim. Kondisi ini bukan semata kesalahan satu pihak, melainkan cerminan dari
minimnya rasa kepemilikan kolektif terhadap fasilitas ibadah bersama.
Kegiatan bersih-bersih mushola ini dilaksanakan pada 28 mei 2026 mulai dari jam 14.30-17.00 dengan penuh semangat gotong royong. Seluruh anggota tim hadir membawa perlengkapan kebersihan seperti: lap kain, sikat lantai, cairan pembersih lantai, masker, hingga sarung tangan. Pembagian tugas dilakukan secara sistematis dengan seluruh anggota membersihkan area salat utama, menyapu dan mengepel lantai, membersihkan tempat wudu, serta mengelap kaca dan jendela agar seluruh sudut musala dapat terjangkau dalam waktu yang tersedia. Kipas angin dan lampu pun tidak luput dari perhatian tim. Seluruh proses berlangsung dalam nuansa kekeluargaan yang hangat, diselingi semangat untuk memberikan yang terbaik bagi jemaah yang akan menggunakan fasilitas tersebut.
Aksi pembersihan mushola ini memiliki
relevansi yang erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable
Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-11, yaitu Kota dan Komunitas yang
Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities). SDGs merupakan agenda
global yang disepakati oleh 193 negara anggota PBB dan terdiri dari 17 tujuan
yang hendak dicapai pada tahun 2030. Poin ke-11 secara khusus mendorong
terciptanya kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan
berkelanjutan. Keberlanjutan sebuah kota tidak hanya diukur dari infrastruktur
fisik semata, tetapi juga dari kualitas ruang sosial dan fasilitas publik yang
dimilikinya termasuk di dalamnya tempat ibadah.
Dikutip dari The Global Goals, terdapat
beberapa indikator dalam SDGs poin 11 yang relevan dengan kegiatan ini, di
antaranya:
- Poin 11.7 Akses Universal terhadap Ruang Publik yang Aman dan Inklusif. Mushola adalah ruang publik yang semestinya dapat diakses dan digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Dengan membersihkan mushola, tim mahasiswa UNS secara langsung berkontribusi pada penyediaan ruang publik yang layak, bersih, dan nyaman bagi semua pengguna.
- Poin 11.6 Pengurangan Dampak Lingkungan Negatif di Perkotaan. Kebersihan lingkungan, termasuk fasilitas ibadah, merupakan bagian integral dari upaya mengurangi pencemaran dan dampak negatif lingkungan. Sampah organik, noda, dan kotoran yang tidak dibersihkan dapat menjadi sumber penyakit dan menimbulkan bau tidak sedap yang mengganggu kualitas udara lokal.
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret,
sebagai generasi muda terdidik, memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang
lebih besar dibandingkan masyarakat umum. Bekal ilmu pengetahuan yang diperoleh
di bangku kuliah seharusnya mendorong kepekaan terhadap permasalahan nyata di
lingkungan sekitar. Dalam konteks SDGs, kontribusi mahasiswa tidak harus selalu
berskala besar; justru aksi-aksi kecil namun konsisten seperti membersihkan
mushola memiliki dampak yang jauh lebih luas dari yang terlihat. Ketika mahasiswa
turun langsung ke lapangan, mereka bukan hanya memberikan manfaat fisik bagi
lingkungan, tetapi juga menebarkan nilai-nilai kepedulian yang dapat
menginspirasi masyarakat lain untuk berbuat hal serupa.
Salah satu temuan menarik dari kegiatan ini
adalah respons positif dari warga sekitar yang menyaksikan aksi tersebut.
Beberapa warga tergerak untuk ikut membantu, dan sebagian lainnya mengucapkan
terima kasih atas inisiatif yang diambil oleh para mahasiswa. Hal ini
membuktikan bahwa edukasi yang paling efektif bukan sekadar ceramah di dalam
ruangan, melainkan contoh nyata yang bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh
masyarakat. Ketika seseorang melihat orang lain terutama kaum muda
berpendidikan bersedia mengotori tangan demi kebersihan bersama, maka akan
timbul rasa malu dan dorongan untuk tidak kalah peduli. Inilah kekuatan
tindakan nyata yang tidak dapat digantikan oleh kata-kata.
Tentu saja, pelaksanaan kegiatan ini tidak
lepas dari berbagai tantangan. Keterbatasan peralatan, waktu yang terbatas di
sela-sela jadwal perkuliahan, serta kondisi fisik mushola yang membutuhkan
perbaikan lebih dari sekadar pembersihan menjadi hambatan yang harus dihadapi.
Namun demikian, semangat kebersamaan dan rasa tanggung jawab kolektif menjadi
bahan bakar yang terus mendorong tim untuk menyelesaikan setiap sudut dengan
sebaik-baiknya. Ke depan, kegiatan seperti ini perlu dijadikan program berkelanjutan
yang melibatkan lebih banyak pihak mulai dari mahasiswa lintas jurusan, takmir
mushola, hingga pemerintah kelurahan setempat agar dampaknya semakin luas dan
terasa.
Dari kegiatan aksi bersih mushola ini,
dapat ditarik beberapa kesimpulan yang bermakna. Pertama, kebersihan tempat
ibadah adalah tanggung jawab bersama seluruh komunitas, bukan hanya tugas
pengurus atau takmir masjid. Kedua, mahasiswa Universitas Sebelas Maret
memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan di masyarakat melalui
tindakan nyata, bukan hanya wacana akademis. Ketiga, setiap langkah kecil
menuju kebersihan lingkungan adalah kontribusi nyata bagi pencapaian SDGs 11
tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan. Dan keempat, rasa memiliki
terhadap fasilitas publik termasuk mushola harus terus dipupuk agar muncul
dorongan alami untuk merawat dan menjaganya.
Kebersihan kota dan fasilitas publiknya
adalah cerminan dari karakter kolektif penghuninya. Ketika setiap individu
termasuk mahasiswa bersedia mengambil peran aktif dalam menjaga kebersihan,
maka visi besar tentang kota yang berkelanjutan, inklusif, dan layak huni bukan
lagi sekadar mimpi dalam dokumen agenda global. Aksi pungut sampah, bersih
mushola, dan berbagai kegiatan kepedulian lingkungan lainnya adalah batu bata
kecil yang bila disusun bersama akan
membentuk fondasi kota yang lebih baik. Kami kelompok 5 dari Universitas
Sebelas Maret berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi kelompok
mahasiswa lain untuk turut berkontribusi, karena perubahan besar selalu dimulai
dari langkah kecil yang penuh keberanian.
Tim Pengabdian dan Penulis:
(Tanaya Shahila Daniswara, Ikhwanul Hanif, Muhammad Akbar Arjuna, dan Raka Dwi Nur H.)

