Pendidikan agama Islam tidak hanya mengajarkan ibadah dan keimanan, tetapi juga turut membentuk akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui adab berteman. Sebagai makhluk sosial, anak-anak perlu dibekali pemahaman tentang cara menjalin hubungan yang baik dengan sesama sejak usia dini, sebab pada masa tersebut karakter mereka masih dalam tahap perkembangan dan lebih mudah dibentuk. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa pendidikan agama Islam memberikan landasan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati yang relevan dengan kehidupan bermasyarakat, sekaligus mengajak peserta didik meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam berinteraksi sosial (Sartika & Rizal, 2025).
Urgensi penanaman adab sejak dini juga semakin terasa mengingat berbagai data memperlihatkan kemerosotan etika pada anak dan remaja, termasuk rendahnya tingkat kesantunan bermedia sosial di Indonesia dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia (Alauddin, 2022). Berdasarkan kenyataan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang menempuh Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam berinisiatif melaksanakan kegiatan sosialisasi bertema "Adab Berteman dalam Islam" sebagai bagian dari tugas pembelajaran berbasis proyek. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengisi Pekan Santri di Musala An-Nur, Sawahan, Boyolali, pada hari Jumat, 5 Juni 2026, pukul 16.15 hingga 17.40 WIB, dengan sasaran anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) berusia sekitar lima hingga sepuluh tahun.
Sebelum kegiatan dilaksanakan, seluruh anggota kelompok terlebih dahulu melakukan serangkaian persiapan yang matang. Diskusi awal digelar untuk menentukan jenis kegiatan dan lokasi pelaksanaan, kemudian dilanjutkan dengan diskusi lanjutan mengenai konsep acara, materi yang akan disampaikan, perlengkapan yang dibutuhkan, serta pembagian tugas setiap anggota. Pada tahap penentuan materi, sempat muncul dua usulan tema, yaitu kisah para nabi dan adab berteman, hingga akhirnya seluruh anggota kelompok menyepakati tema adab berteman sebagai materi utama karena dianggap lebih relevan dengan permasalahan interaksi sosial yang sering dijumpai pada anak-anak. Sebelum hari pelaksanaan, kelompok juga melakukan survei lapangan ke Musala An-Nur untuk mengamati kondisi TPA sekaligus meminta izin kepada takmir masjid, lalu diikuti dengan latihan persiapan acara dan pembelian perlengkapan, termasuk makanan ringan yang akan dibagikan sebagai hadiah dan konsumsi.
Pembagian tugas dilakukan secara jelas agar kegiatan dapat berjalan lancar. Seorang anggota bertanggung jawab mencari lokasi dan melakukan koordinasi awal dengan takmir masjid, seorang lainnya berperan sebagai perwakilan kelompok dalam meminta izin dan menjelaskan maksud kegiatan kepada pihak musala. Pada hari pelaksanaan, dua anggota bertugas sebagai pembawa acara sekaligus penyampai materi, satu anggota menjadi moderator yang mengkondisikan anak-anak agar tertib sekaligus membantu pembagian hadiah, satu anggota lain berperan sebagai operator yang memastikan video edukasi dapat ditampilkan dengan baik, dan satu anggota bertugas mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan dalam bentuk foto maupun video. Pembagian peran yang jelas ini menjadi salah satu kunci keberhasilan kegiatan, karena setiap anggota dapat berfokus pada tanggung jawabnya masing-masing tanpa mengabaikan kerja sama tim secara keseluruhan.
Kegiatan pada hari pelaksanaan, dimulai dengan pembukaan dan perkenalan, kemudian dilanjutkan dengan sesi ice breaking untuk mencairkan suasana sekaligus menarik perhatian anak-anak. Setelah itu, pemateri memutarkan video edukatif yang menampilkan contoh perilaku baik dan buruk dalam berteman, sebelum akhirnya memberikan penjelasan secara langsung mengenai pokok-pokok adab berteman dalam Islam. Pemilihan metode bercerita melalui media visual ini didasarkan pada pertimbangan bahwa anak usia dini umumnya lebih mudah menyerap nilai moral melalui cerita atau tayangan yang menarik dibandingkan ceramah satu arah, mengingat pada rentang usia tersebut anak masih banyak belajar melalui peniruan dan pengalaman konkret dari lingkungan sekitarnya (Alauddin, 2022). Materi yang disampaikan meliputi pentingnya tidak iri dan dengki kepada teman, tidak memotong pembicaraan maupun berdebat secara berlebihan, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, menolong teman yang sedang tersesat atau mengalami kesulitan, serta tidak saling mencemooh atau mengejek satu sama lain. Kegiatan ini turut dilandasi oleh firman Allah Swt. dalam Quran Surah An-Nahl ayat 125 yang memerintahkan umat Islam untuk mengajak manusia ke jalan Allah dengan cara yang bijaksana dan pengajaran yang baik, sehingga metode penyampaian materi pun dirancang agar mudah dipahami dan menarik bagi anak-anak.
Untuk meningkatkan partisipasi peserta, kelompok mengadakan sesi tanya jawab yang diselingi dengan pembagian hadiah berupa makanan ringan kepada anak-anak yang aktif menjawab pertanyaan, serta hadiah kehadiran bagi seluruh peserta yang mengikuti kegiatan hingga selesai. Antusiasme peserta terlihat jelas selama kegiatan berlangsung, ditandai dengan keaktifan mereka dalam menjawab pertanyaan dan mengikuti sesi diskusi. Sejumlah anak bahkan mampu memberikan contoh konkret perilaku yang mencerminkan adab berteman yang baik berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari, sejalan dengan temuan bahwa pembiasaan nilai-nilai Islami sejak dini, baik melalui kegiatan ibadah maupun interaksi sosial, terbukti efektif memperkuat pemahaman dan penerapan akhlak mulia pada anak-anak (Sartika & Rizal, 2025). Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi penutupan dan dokumentasi bersama seluruh peserta dan panitia.
Selain bernilai religius, kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) keempat, yaitu pendidikan berkualitas atau quality education. SDGs keempat tidak hanya memfokuskan pada akses pendidikan formal, tetapi juga mendorong tersedianya pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas bagi semua kalangan, termasuk melalui jalur pendidikan nonformal seperti Taman Pendidikan Al-Qur'an, sebagaimana ditegaskan bahwa pemerataan akses dan mutu pendidikan menjadi kunci agar tidak ada kelompok yang tertinggal, termasuk anak-anak di lingkungan yang kurang terlayani secara pendidikan formal (Adipat & Chotikapanich, 2022). Melalui sosialisasi adab berteman ini, mahasiswa turut berkontribusi dalam pemerataan pendidikan karakter dan penguatan nilai-nilai moral bagi anak-anak, sejalan dengan target SDGs keempat yang menekankan pentingnya pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, termasuk penanaman sikap menghargai keberagaman serta mendukung terciptanya budaya damai dan anti kekerasan sejak usia dini. Keterkaitan ini juga dapat dilihat dari perspektif keislaman, di mana konsep pendidikan berkualitas pada dasarnya selaras dengan anjuran untuk menyeimbangkan penguasaan ilmu pengetahuan dengan dimensi spiritual, sehingga keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari aspek praktik dan prestasi, tetapi juga dari kedalaman nilai spiritual yang tertanam dalam diri peserta didik (Nazila & Ahlan, 2024). Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pengaplikasian Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam, tetapi juga sekaligus wujud kontribusi mahasiswa dalam mendukung pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan di bidang pendidikan.
Kegiatan sosialisasi adab berteman dalam Islam yang dilaksanakan di Musaicela An-Nur, Sawahan, Boyolali, telah terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Bagi anak-anak TPA, kegiatan ini memberikan pemahaman baru tentang pentingnya menjaga sikap dan perilaku dalam pertemanan sesuai ajaran Islam, seperti saling menghormati, saling membantu, dan menghindari perilaku saling mengejek. Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan mengabdi kepada masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan agama Islam, baik yang berlangsung di ruang kelas formal maupun melalui kegiatan pengabdian masyarakat seperti ini, memiliki kontribusi besar dalam menciptakan generasi yang disiplin, peduli sosial, dan toleran (Sartika & Rizal, 2025). Keberhasilan kegiatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang baik antaranggota kelompok, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan, merupakan faktor penting dalam mewujudkan tujuan bersama. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara lebih rutin, baik oleh mahasiswa maupun pengajar TPA, agar nilai-nilai akhlak yang telah ditanamkan dapat terus dikuatkan dan benar-benar diterapkan oleh anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.
Tim Pengabdian dan Penulis
(Melati Hindah Nurnayni, Natasya Julia Ningrum, Anggit Karunia Fitri, Rei Khansa Arimurti, Akhmad Azharinaz Faozilhaq)
