Aksi Bersih dan Donasi untuk Masjid: Wujud Pengamalan Nilai Kebersihan dalam Islam

Rabu pagi, 17 Juni 2026, langit cerah menyambut semangat kami, mahasiswa D3 Akuntansi Kelas A Kelompok IV Universitas Sebelas Maret PSDKU Madiun, yang berkumpul di depan Mushola Nurul Huda. Hari itu bukan hari biasa. Kami datang bukan untuk kuliah di dalam kelas, melainkan untuk belajar langsung dari kehidupan nyata: menjaga kebersihan tempat ibadah sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam dalam keseharian.

Kegiatan ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI). Namun lebih dari sekadar memenuhi kewajiban akademik, kami menyadari bahwa apa yang kami lakukan hari itu adalah perwujudan nyata dari sabda Nabi Muhammad SAW: "kebersihan adalah sebagian dari iman" (HR. Muslim). Prinsip itu yang menjadi semangat kami sejak awal.

Begitu tiba di lokasi, suasana mushola sudah terlihat membutuhkan perhatian. Debu menempel di lantai teras, karpet sajadah tampak kusam, dan kamar mandi serta area tempat wudu pun perlu mendapat sentuhan kebersihan yang serius. Tanpa menunggu lama, kami langsung membagi tugas. Ada yang menangani area luar, ada yang masuk ke dalam mushola, dan ada pula yang mengurus fasilitas sanitasi.

  

Mahasiswi membersihkan karpet mushola (kiri) dan mahasiswa membersihkan kamar mandi & tempat wudu (kanan)

Di teras dan bagian dalam mushola, dua mahasiswi dengan penuh semangat mengangkat karpet sajadah yang sudah lama digunakan. Debu beterbangan saat karpet diangkat, namun itu tak menyurutkan semangat mereka. Sementara itu, rekan lain menyapu seluruh sudut lantai mushola, serambi, hingga area teras — memastikan tidak ada debu atau kotoran yang tersisa.

Di sisi lain, seorang mahasiswa menangani bagian yang tak kalah penting: kamar mandi dan area tempat wudu. Dengan menggunakan cairan pembersih dan sarung tangan, ia membersihkan lantai, dinding, dan saluran air dari noda dan lumut yang mengeras. Ia tahu betul bahwa kebersihan tempat wudu adalah syarat bagi sahnya ibadah — dan itu menjadi motivasinya untuk bekerja sungguh-sungguh.

Tak berhenti di sana, tim lainnya mengelap kaca jendela dan dinding mushola agar cahaya dapat masuk dengan optimal, sekaligus memberikan kesan bersih dan terang bagi siapa pun yang datang untuk beribadah. Sajadah, Al-Qur'an, dan perlengkapan ibadah lainnya pun dirapikan dan disusun kembali agar mudah dijangkau oleh jamaah.

Di balik setiap gerakan sapu, setiap usapan kain pel, dan setiap tetes keringat kami, terkandung nilai-nilai Islam yang mendalam. Nilai thaharah — kesucian dan kebersihan — bukan sekadar konsep yang kami pelajari di kelas, melainkan sesuatu yang kami rasakan langsung. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 222 bahwa Dia mencintai orang-orang yang menyucikan diri. Itulah landasan kami.

Nilai gotong royong dan ukhuwah Islamiyah pun terasa kuat sepanjang kegiatan berlangsung. Tidak ada yang saling menunggu perintah — semua bergerak atas kesadaran dan rasa tanggung jawab bersama. Inilah yang kami maknai sebagai implementasi nyata dari ilmu yang selama ini kami pelajari: bahwa menjadi seorang akuntan yang baik berarti juga menjadi pribadi yang peduli terhadap lingkungan dan sesamanya.

Menjelang siang, saat semua area mushola telah bersih dan tertata rapi, kami melaksanakan satu momen yang paling berkesan: penyerahan donasi alat kebersihan kepada pengurus Mushola Nurul Huda. Keset baru, sapu, dan berbagai peralatan kebersihan lainnya kami serahkan secara langsung sebagai bentuk kepedulian agar mushola dapat terus terjaga kebersihannya jauh setelah kami pergi.

Pengurus mushola menyambut kami dengan hangat. Beliau mengucapkan terima kasih atas kepedulian para mahasiswa, dan kami pun merasa bahwa hari itu bukan hanya kami yang memberi — kami justru mendapat lebih banyak: pelajaran tentang keikhlasan, kebersamaan, dan makna sesungguhnya dari berilmu.

Foto bersama pengurus Mushola Nurul Huda setelah penyerahan donasi alat kebersihan

  

Dokumentasi suasana kegiatan bersih-bersih Mushola Nurul Huda

Kami pulang dengan hati yang lapang. Mushola Nurul Huda kini tampak lebih bersih, lebih terang, dan lebih nyaman digunakan oleh jamaah. Namun yang lebih berharga dari itu semua adalah kesadaran yang tertancap dalam diri kami masing-masing: bahwa ilmu tanpa amal adalah hampa, dan pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu cara paling nyata untuk mensyukuri kesempatan belajar yang kami miliki.

Semoga kegiatan sederhana ini menjadi amal ibadah yang diterima oleh Allah SWT, dan semoga kegiatan ini menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk terus mengamalkan nilai-nilai Islam dalam setiap langkah kehidupan mereka — di dalam kampus maupun di luar kampus.

Tim Penngabdi dan Penulis 

Intan Putri Dwitasari, Kayla Jacyntha Amiriyati, dan Danendra Shafan Nobel.

Mahasiswa D3 Akuntansi Kelas A, Universitas Sebelas Maret PSDKU Madiun

Lebih baru Lebih lama